Rabu, 02 Mei 2012

Eksploitasi dan Citra Perempuan di Media Massa


Eksploitasi dan Citra Perempuan
di Media Massa

   Kebebasan dalam mengaktualisasikan diri merupakan hak semua orang, sudah menjadi naluri yang fitrah karena manusia merupakan makhluk yang ingin diakui keberadaannya dan tidak ada strata baik gender ataupun status sosial dalam hal ini.
Sangat sulit memang untuk menyatakan perempuan sama dengan laki-laki, baik dengan mengatas namakan potensi ilmiah maupun potensi lain yang dapat mengidentifikasi kelebihan dari salah satu keduanya. Adanya perbedaan dari dua jenis manusia itu harus diakui, suka ataupun tidak. Atas dasar perbedaan itulah, maka lahir perbedaan dalam tuntutan dan ketetapan hukum, masing-masing disesuaikan dengan kodrat, jati diri, fungsi serta peranan yang diharapkan darinya baik laki-laki maupun perempuan dan itu semua demi kemashlahatan bersama.
Keindahan perempuan, sering kali dijadikan objek yang sangat menguntungkan bagi pelaku media, dengan mendiskreditkan perempuan untuk mengejar rating tertinggi dan berlomba-lomba mengejar duniawi yang dibutakan akan azaz kapitalisme. Oleh karena itu, kekaguman-kekaguman terhadap perempuan, terkadang tanpa disadari terlihat sangat diskriminatif ketika perempuan hanya dijadikan simbol dalam seni-seni komersial, yang ditayangkan melalui karya-karya seni kreatif seperti iklan, sehingga menjadi konsumsi masyarakat dalam berbagai media masa dan posisi perempuan sangat potensial untuk di eksploitasi. Ya, tidak dipungkiri memang apabila dilihat dari sisi positifnya, perempuan mampu membantu meningkatkan nilai perekonomian tapi, hal ini tidaklah sejalan dengan nilai moral agama yang berlaku.
Perempuan merasa senang, karena itulah tugas menuntut untuk membuat orang lain senang dan tanpa sadar kalau perempuan merasa senang bahwa dirinya dieksploitasi. Ekploitasi ini terjadi bukan hanya atas kerelaan perempuan semata, namun juga karena kebutuhan kelas sosial itu sendiri dan apa yang menyebabkan gambaran perempuan dalam media masih cenderung sebagai objek ? Hal itu terjadi karena yang mendominasi media: pemilik, penulis, reporter, editor dan sebagainya itu masih didominasi oleh laki-laki. Sepanjang ini masih terjadi perempuan tidak bisa melakukan banyak hal atau menuntut beragam kehendak sekitar perubahan citra mereka di media massa.
Inilah citra perempuan yang berhasil dibentuk dalam media massa:
  1. Citra Pigura     : perempuan sebagai sosok yang sempurna dengan bentuk
                                      tubuh yang ideal                      
  1. Citra Pilar        : perempuan sebagai penyangga keutuhan dan penata rumah
                                      tangga
  1. Citra Peraduan: perempuan sebagai objek seksual
  2. Citra Pinggan  : perempuan sebagai sosok yang identik dengan dunia dapur.
  3. Citra pergaulan: perempuan sebagai sosok yang kurang pede dalam bergaul.
           ( Tomogola, 1998; 8)                     
Itulah sekelumit fakta yang disampaikan media. Karena itu, gambaran perempuan dalam media massa merupakan cermin realitas yang ada dalam masyarakatnya. Kata orang, mengharapkan setara dalam segala sesuatu adalah sebuah ilusi. Meskipun, kaum perempuan bisa saja berdalih itu adalah cita-cita dan perjuangan. Ketimbang mempersoalkan terus-menerus mengenai kesetaraan gender, feminisme – maskulin dsb, alangkah lebih baik jika belajar untuk menghargai diri sendiri, mengoptimalkan potensi dan senantiasa bersyukur pada-Nya. Perempuan harus lebih menunjukkan eksistensinya melalui prestasi, karya, kecakapan dan peran dalam masyarakat yang tidak kalah dengan kaum laki-laki.. Sehingga, gambaran ideal tentang perempuan pun akan tampil dalam media massa.



 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar